FORENSIK:



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Linguistik atau yang biasa disebut sebagai ilmu khusus yang mempelajari bahasa ini memiliki cakupan kajian yang cukup banyak. Mulai dari pengkajian bahasa dalam konteks kemasyarakatan, sosial, etnis, medis, dialek, sikap, makna, forensik, dll. Khusus dalam hal ini saya akan membahas mengenai peranan penting ilmu linguistik forensik. Adapun linguistik dalam ranah forensik ini merupakan cabang linguistik terapan yang sangat berkaitan dengan hukum. Ahli bahasa diperlukan untuk menyediakan atau menganalisis bukti berupa komponen bahasa demi kepentingan investigasi perdata dan pidana.
Linguistik forensik terutama berurusan dengan masalah identifikasi penutur berdasarkan dialek, gaya bicara, atau aksennya, bahkan kadang kala menganalisis tulisan tangan tersangka untuk mendapatkan profilnya, mencocokkan rekaman suara tertuduh dengan sejumlah tersangka, menganalisis ciri-ciri sidik suara seseorang, memastikan bahwa rekaman suara yang ada adalah asli dan bukan merupakan rekayasa, serta menyaring dan memilah berbagai kebisingan yang ikut terekam untuk mengetahui latar di mana rekaman itu dibuat. Semua analisis ahli linguistik forensik itu menjadi bahan pertimbangan di pengadilan. Ahli linguistik forensik sering kali dimintai pendapat sebagai saksi ahli.
Ketika mempelajari linguistik forensik, bukan tidak mungkin keahlian para linguis dalam ranah hukum sangat membantu dalam proses penyidikan oleh pihak kepolisian bahkan diharapkan bisa sepenuhnya menyelesaikan kasus yang paling sulit sekalipun. Seperti kasus korupsi yang marak terjadi di lingkup NKRI. Dari penjelasan diatas maka penulis akan membahas Ungkapan Terakhir Alviss Kong Pada Status Facebook.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Linguistik Forensik
Linguistik forensik adalah salah satu cabang linguistik (ilmu bahasa) yang bersifat terapan (aplikatif) yang berkaitan dengan ranah hukum. Di Indonesia, cabang ilmu bahasa ini berkembang pada tahun 1980-an dan mencapai titik kemapanan sekitar tahun 1990-an. Sayangnya, pakar bidang ini di Indonesia masih relatif sedikit.
Perkembangan berbagai kasus hukum, baik di ranah pidana maupun perdata dirasa perlu untuk menerima sumbangsih atau kehadiran pakar bahasa sebagai tenaga ahli dalam mengungkap berbagai kasus hukum, seperti pencemaran nama baik hingga persoalan-persoalan korupsi. Apabila selama ini investigasi atas sebuah kasus hukum lebih banyak ditumpukan pada hasil penyidikan maupun penyelidikan pada aspek tertentu, barangkali sudah saatnya kehadiran linguistik forensik dapat menjadi salah satu aspek penunjang yang sangat berarti. Kehadiran pakar linguistik, khususnya linguistik forensik akan sangat membantu dalam memberikan pembuktian sebuah perkara di pengadilan.
Linguistik forensik juga berurusan dengan masalah identifikasi penutur berdasarkan dialek, gaya bicara, atau aksennya, bahkan kadang kala menganalisis tulisan tangan tersangka untuk mendapatkan profilnya, mencocokkan rekaman suara tertuduh dengan sejumlah tersangka, menganalisis ciri-ciri sidik suara seseorang, memastikan bahwa rekaman suara yang ada adalah asli dan bukan merupakan rekayasa, serta menyaring dan memilah berbagai kebisingan yang ikut terekam untuk mengetahui latar di mana rekaman itu dibuat. Semua analisis ahli linguistik forensik itu menjadi bahan pertimbangan di pengadilan. Ahli linguistik forensik sering kali dimintai pendapat sebagai saksi ahli.

B.     Tataran Linguistik Forensik
Linguistik forensik memiliki beberapa tataran atau pembagian ke dalam beberapa subdomain yang memiliki pertalian dengan pembuktian sebuah perkara hukum. Tataran tersebut yaitu fonetik akustik, analisis wacana, dan semantik.
Fonetik akustik merupakan bidang kajian yang menggabungkan antara ilmu bunyi bahasa dengan warna suara manusia (timbre). Salah satu substansi di dalam fonetik akustik ini meliputi gaya tuturan seseorang sebagai pembuktian atas sebuah kasus hukum. Akhir-akhir ini dengan semakin canggihnya teknologi, beberapa kasus hukum memanfaatkan kehadiran perangkat teknologi tersebut. Salah satunya yaitu teknologi komunikasi, seperti telepon seluler. Sebagai alat komunikasi, telepon seluler seringkali menjadi sarana perhubungan yang efektif bagi pelaku-pelaku tindak kejahatan/ kriminal. Pembuktian akan seseorang atas hasil investigasi berupa rekaman percakapan dapat dilakukan melalui analisis terhadap warna suara orang tersebut yang disandingkan dengan suara aslinya. Apabila tingkat akurasi atas investigasi ini tinggi, otomatis orang tersebut tidak akan mengelak atau menyangkal. Pada satu sisi, seseorang tersebut tidak dapat lagi melakukan kebohongan atas perbuatan melanggar hukum yang dituduhkan kepadanya.
Analisis wacana merupakan saah satu tataran linguistik forensik. Analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Analisis ini lebih tinggi tatarannya tidak hanya terbatas pada persoalan kalimat semata. Akan tetapi, analisis wacana ini memiliki korelasi menyeluruh atas isi sebuah dokumen. Biasanya, analisis wacana ini digunakan untuk membuktikan keabsahan dokumen pada sebuah perkara hukum. Seringkali dokumen sebagai alat bukti sebuah perkara hukum dibedakan atas dua golongan besar berdasarkan sifatnya, yakni dokumen yang informal dan dokumen formal. Analisis wacana memungkinkan para ahli hukum untuk melihat bagaimana pesan-pesan diorganisasikan, digunakan, dan dipahami oleh mereka-mereka yang terlibat dalam pelanggaran hukum. Di samping itu, analisis wacana dapat pula digunakan dan dimungkinkan untuk melacak variasi cara yang digunakan oleh seseorang (komunikator) dalam upaya mencapai tujuan atau maksud-maksud tertentu melalui pesan-pesan yang terdapat di dalam sebuah wacana. Termasuk di dalam analisis wacana ini yaitu pesan-pesan yang bersifat simbolik.
Semantik secara umum bermakna ilmu tentang makna bahasa. Semantik menjadi ranah yang menarik dalam kasus-kasus hukum di Indonesia karena keunikan dari pengertian yang tercakup di dalamnya. Sebuah makna bahasa, terkadang akan tersamar atau lugas dalam pemakaiannya. Oleh karena itu, kita mengenal apa yang dinamakan makna leksikal dan makna gramatikal. Bagi sebuah pembuktian sebuah kasus atau perkara hukum, para ahli hukum tidak dapat hanya bertumpu pada satu pengertian makna saja. Harus disadari bahwa terminologi tersebut pastilah mengacu pada makna atau pengertian lain. Untuk itu, pemahaman akan makna bahasa harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan juga konteks, bukan saja tekstual semata.
Perkembangan ilmu bahasa saat ini bahkan telah melampaui apa yang terkandung dalam semantik. Sekarang semantik bahkan telah ditunjang oleh ilmu bahasa lain yang lebih rinci melibatkan banyak indikator, seperti ilmu pragmatik. Pragmatik relatif lebih maju karena di dalamnya terkandung maksim-maksim yang dapat digunakan dalam pembuktian sebuah perkara terutama dari aspek bahasanya.





C.    Contoh Kasus Linguistik Forensik
Pada hakikatnya linguistik forensik adalah bidang kajian ilmu bahasa yang mengkaji tentang ilmu yang berhubungan dengan kasus dan ranah hukum. Linguistik forensik adalah salah satu cabang linguistik (ilmu Bahasa) yang bersifat terapan (Aplikatif) yang berkaitan dengan ranah hukum. Linguistik forensik diidentifikasi berdasarkan gaya bahasa atau dialek.
Sesuai yang telah dijelaskan diatas tentang tataran atau pembagian linguistik forensik antara lain adalah:
-          Fonetik Akustik
-          Analisis Wacana
-          Semantik
Adapun contoh kasus yang ditelaah dalam tataran ilmu linguistik forensik berdasarkan pengetahuan yang didapatkan penulis adalah; Status terakhir dari seorang pria malaysia yang meninggalkan pesan terakhirnya di facebook pribadinya sebelum bunuh diri.
Isi bahasa dari pesan Facebook tersebut adalah: Alviss Kong “Count Down for 45 Mins.... What Should I do in this 45 Mins??”  (Wesnesday at  11:18pm. 240 Like dan 10 komentar.
 Chelvin Kong: for what?
Alviss Kong: jieeeee..... wo <3 ni J..
Chelvin Kong: Chee man gan ah U..... eat wrong what ah?
Alviss Kong : walao.....ur adik always love you... but I doesnot noe now
how to express my feelings... anyway thx jie for loving me
too....
              Melisa Beh : couunt down for ape? ;)
            Seandainya diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia status Alviss Kong artinya adalah Hitung mundur dari 45 menit.. apa yang harus aku lakukan dalam 45 menit ini”. 08 December 2010.
Pemuda asal malaysia ini nekat mengahiri hidupnya dengan cara bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari appartemennya. Sebelum melompat Alvis sepertinya telah memberikan pesan kepada adiknya (berdasarkan komen status)namun adiknya menggangap bahwa kakanya hanya bercanda dan juga ia telah mengontak Ibunya namun ibunya tidak mengangkat telpon darinya dikarenakan ia sedang menghadiri undangan perkawinan.
Berdasarkan linguistik forensik kesejarahan ditinjau dari aspek kehidupan pribadi dari seorang Alvis dan penyebab yang menyebabkan ia bunuh diri. Dari kasus tersebut terkuak penyebah ia bunuh diri karena ia merasakan kekecewaan yang teramat dalam kepada kekasihnya yang ia pacari selama 6 tahun. Hubungan mereka berakhir tanpa sebab dan setelah mengetahui bahwa pacarnya sudah mempunyai kekasih baru, maka itulah penyebab dari kematian tragis yang dialami oleh travis yang menerjunkan dirinya diatas lantai 24 di apartemen miliknya.
Bukti lain yang berhasil didapatkan untuk mendukung pernyataan diatas adalah adanya tulisan yang ada didalam blog pribadi miliknya dan ia juga menuliskan banyak pernyataan sedihnya karenaditinggalkan oleh kekasihnya. Tulusannya berbunyi : “Kau selalu bilang mencintaiku dan itu yang aku selalu nantikan, tapi ketika itukudapatkan malah kau kini bersama yang lain”.
Dengan demikian terbongkarlah sudah kasus Alvis yang ditelaah dengan ilmu linguistik forensik berdasarkan bukti-bukti yang ditinggalkannya baik berupa pesan elektronik semisal facebook dan blog.

BAHAN BACAAN : JOHN NELSON: FORENSIC.

HALLIDAY: ESSAY



                                                                                                RENGKI AFRIA
                                                                                         1220713009

Aliran-aliran yang berkembang pada ranah linguistik sangatlah dipengaruhi oleh bidang ilmu lain dan paham-paham yang ada disekitarnya, terutama yang serumpun dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Fungsionalisme dalam kajian linguistik merupakan pengaruh dari beberapa paham dalam ilmu seperti antropologi, sosiologi dan psikologi. Paham yang ada disekitar kemunculan fungsionalisme sebagai akarnya adalah strukturalis meskipun ada yang berpendapat berbeda tentang hal ini.
Dalam ilmu antropologi, fase perkembangannya lebih dahulu kemunculan fungsionalisme dari pada strukturalisme itu sendiri. Akan tetapi untuk bidang linguistik, strukturalisme merupakan  akar dari kemunculan fungsionalisme atau struktural fungsional, yang kemudian Halliday menyebutnya dengan Linguistik Struktural Fungsional  (SFL) atau Linguistik Fungsional Sistemik. Makalah ini akan menjelaskan tentang kemunculan fungsionalisme dalam kajian linguistik dan pemikiran Halliday tentang Linguistik Struktural Fungsional tersebut.













Aliran Fungsionalisme
Studi bahasa secara umum ('Bahasa') dibagi menjadi
orang-orang dari bahasa ('Langues') dan berbicara ('parole '). Yang pertama adalah' Linguistik dalam arti sempit'. Kedua, linguistik 'bahasa' adalah
pada gilirannya dibagi menjadi linguistik diakronis dan sinkronis linguistik. Ini sama-sama sah, tetapi menyimpang 'benar-benar'. Poin ketiga kami kemudian berhubungan dengan gagasan tentang bahasa sebagai sistem 'nilai'. Dalam ilmu ekonomi, untuk Misalnya, ada sistem nilai-nilai yang berhubungan kerja dengan upah yang dibayar untuk melakukannya. Demikian juga (untuk Saussure) nilai-nilai kata-kata mereka-makna. Dalam setiap kasus kita prihatin dengan' sistem ekuivalensi antara hal-hal yang berbeda dari perintah. Dalam satu itu antara kerja dan upah. Di lain itu adalah antara 'signifiant', atau sesuatu yang 'berarti', dan 'signifie', atau sesuatu yang 'dimaksudkan'.[1]
Pada akhir abad kesembilan belas - untuk alasan yang semuanya
tampak baik pada waktu itu, dan beberapa di antaranya tetap meyakinkan
hari ini - persamaan bahasa dengan spscies biologis memiliki sebagian besar telah ditinggalkan. Hal ini menciptakan kesulitan bagi gagasan linguistik sebagai disiplin akademis: jika bahasa tidak spesies hidup, dalam arti apa yang mereka 'hal-hal' yang dapat dipelajari.[2]
Fungsionalisme adalah gerakan dalam linguistik yang berusaha menjelaskan fenomena bahasa dengan segala manifestasinya dan beranggapan bahwa mekanisme bahasa dijelaskan dengan konseuensi-konsekuensi yang ada kemudian dari mekanisme itu sendiri. Wujud bahasa sebagai sistem komunikasi manusia tidak dapat dipisahkan dari tujuan berbahasa, sadar atau tidak sadar.
Konsep utama dalam fungsionalisme ialah fungsi bahasa dan fungsi dalam bahasa. Menyangkut yang pertama sikap fungsionalistis sebagai berikut.
1.       Analisis bahasa mulai dari fungsi ke bentuk.
2.       Sudut pandang pembicara menjadi perspektif analisis.
3.       Deskripsi yang sistematis dan menyeluruh tentang hubungan antara fungsi dan bentuk.
4.       Pemahaman atas kemampuan komunikatif sebagai tujuan analisis bahasa.
5.       Perhatian yang cukup pada bidang interdisipliner, misalnya sosiolinguistik dan penerapan linguistik pada masalah praktis, misalnya pembinaan bahasa.
Berikut ini akan dijelaskan tentang kemunculan fungsionalisme dalam bidang ilmu sosial yang mana mempengaruhi kemunculan fungsionalisme atau struktural fungsional dalam ranah ilmu linguistik. Berbicara tentang faham dan pemikiran tentunya tidak bisa dilepaskan dari tokoh  dan fenomena yang ada disekitarnya.
Acuan dalam menjelaskan kemunculan fungsionalisme itu akan dimulai dari Saussure sebagai pelopor Linguistik moderen disamping klaim bahwa fungsionalisme ini berakar dari struktruralisme. Saussure lahir pada tahun 1857, merupakan anak dari seorang naturalis yang dilingkupi oleh keluarga yang kuat dalam bidang ilmu alam. Ia mengenal linguistik dari seorang filolog yang bernama Adolf Pictet. Pemikir yang kuat pada zamannya antara lain adalah Sigmund Freud (bidang psikologi) dan Durkheim (bidang fisika sosial). Penjelasan-penjelasan Saussure tentang strukturalism kemudian diadopsi oleh bidang lain seperti antropologi dan semiotik.
Strukturalisme dalam bidang antropologi banyak dipengaruhi oleh pemikiran Brownislaw Kasper Malinowski (1884-1942). Prinsip-prinsip yang dikembangkan olehnya juga merupakan pengaruh dari ilmu linguistik modern de Saussure. Malinowski ini merupakan pelopor ethnografi dan pelopor kemunculan struktural fungsional dan kemudian juga mempengaruhi ahli-ahli sosiologi dan linguistik.  J.R. Firth seorang ahli linguistik Inggris juga mendapat pengaruh besar dari Malinowski. Strukturalisme dalam bidang antropologi semakin mencuat berkat pengaruh Claude-Levi’strauss, bahkan memberi pengaruh besar terhadap sosiologi, sastra dan bahasa serta filsafat.
Pengaruh strukturalis dalam bidang Sosiologi dilakukan oleh Emile Durkheim (1858-1917). Terma yang terkenal dari Durkheim ini adalah “kesadaran kolektif. Pemikiran-pemikirannya tentang strata sosial dan institusi sosial juga sebagai pemicu lahirnya fungsionalisme dalam ilmu sosiologi. Teori itu kemudian dikemukakan oleh Kingsley dan Wilbert Moore pada tahun 1945. Talcott Parsons juga merupakan seorang ahli sosiologi yang juga mengembangkan teori fungsional struktural (Adaptation, Goal attainment, Integration, Latency). Roland Barthes juga memberi pengaruh struktural kuat terhadap sosiologi terutama tentang teori-teori sosial dan marxisme.
Ada beberapa penganut struktural yang berasal dari Amerika seperti Fanz Boas (1858-1942), Edward Sapir (1884-1939), Benjamin Lee Whorf (1897-1941) dan Leonard Bloomfield. Kontribusi Boas adalah pada pengumpulan informasi tentang bahasa-bahasa dan budaya orang asli Amerika. Metode-metode inilah yang kemudian menjadi basis strukturalisme di Amerika. Sapir merupakan murid dari Boas. Mereka mencoba menggabungkan psikologi dan antropologi dalam melihat bahasa yang mana sangat berhubungan dengan cara hidup dan pemikiran dari penutur. Pemikiran inilah yang kemudian dikembangkan oleh Whorf sehingga melahirkan Hipotesis Sapir-Whorf yang mana mengatakan bahwa struktur bahasa seseorang ketika berbicara menentukan atau menjelaskan bagaimana dia melihat dan mempersepsikan dunia. Sementara itu  kontribusi Bloomfield adalah mengokohkan berdirinya linguistik sebagai sains. Dia juga menolak kesimpulan yang bersifat mentalistik dari Boas dan Sapir yang banyak dipengaruhi oleh psikologi behavioris. Namun pada akhirnya Bloomfield juga mendapat tantangan dari Noam Chomsky terutama dalam kajian Sintaksis dengan karyanya yang berjudul Struktur Sintaksis (formalis). Pendekatan mentalistik yang diapliksikan Chomsky dan Chomskian melahirkan teori generatif semantik, gramar leksikal fungsional, dll.
Kemunculan aliran fungsionalisme dalam bidang linguistik merupakan kontribusi dari berbagai bidang ilmu diantranya adalah antropologi, sosiologi,  dan psikologi yang menganut strukturalisme. Hal ini dapat dilihat dari pengaruh besar Saussure hingga Chomskian. Fungsionalisme dalam kajian ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Struktural Fungsional.  Hal yang menonjol dalam kemunculan struktural fungsional dalam ranah linguistik yang dikembangkan oleh Halliday diasumsikan sebagai pengaruh dari tiga bidang ilmu yaitu antropologi, sosiologi dan psikologi. Dalam bidang antropologi yang menonjol adalah tentang sistem tanda (semiotik). Untuk bidak sosiologi adalah pengaruh Barthes tentang peran dan status sosial. Dan selanjutnya dalam bidang psikologi adalah pengaruh behaviorist dan teori kesadaran.
BIBLIOGRAFI HALLIDAY
Halliday lahir dan dibesarkan di Inggris . Ketertarikannya untuk bahasa dipelihara oleh orang tuanya: ibunya , Winifred , telah mempelajari Prancis, dan ayahnya , Wilfred , adalah dialectologist , seorang penyair dialek , dan guru bahasa Inggris dengan cinta untuk tata bahasa dan drama Elizabethan. Tahun 1942, Halliday sukarela untuk kursus pelatihan bahasa asing layanan nasional . Dia terpilih untuk belajar Cina pada kekuatan keberhasilannya untuk dapat membedakan nada . Setelah pelatihan 18 bulan , ia menghabiskan satu tahun di India bekerja sama dengan Unit Intelijen Cina melakukan pekerjaan kontra-intelijen . Pada tahun 1945 ia dibawa kembali ke London untuk mengajar Cina. Dia mengambil gelar BA Honours dalam Bahasa Cina modern dan Sastra ( Mandarin ) melalui University of London. Ini adalah gelar eksternal , dengan studi yang dilakukan di Cina. Dia kemudian tinggal selama tiga tahun di Cina , di mana ia belajar di bawah Luo Changpei di Peking University dan di bawah Wang Li di Lingnan University, sebelum kembali untuk mengambil gelar PhD dalam Linguistik China di Cambridge di bawah pengawasan Gustav Hallam dan kemudian JR Firth. Setelah bahasa selama 13 tahun mengajar , ia mengubah bidang spesialisasinya untuk linguistik , dan dikembangkan linguistik fungsional sistemik , termasuk tata bahasa fungsional sistemik , menguraikan di atas fondasi yang diletakkan oleh guru Inggris-nya JR Firth dan sekelompok Eropa ahli bahasa dari abad ke-20 awal , sekolah Praha . Kertas mani pada model ini diterbitkan pada tahun 1961 .
Posisi pertama akademik Halliday adalah Asisten Dosen di Cina, di Cambridge University, 1954-1958 . Pada tahun 1958 ia pindah ke Edinburgh , di mana ia Dosen in General Linguistics sampai tahun 1960 , dan kemudian Pembaca 1960-1963 . Dari tahun 1963 sampai 1965, ia adalah direktur Pusat Penelitian Komunikasi di College University, London. Selama tahun 1964, ia juga Masyarakat Linguistik Amerika Profesor, di Indiana University. Dari tahun 1965 sampai 1971, ia adalah Profesor Linguistik di UCL . Pada 1972-73 ia Fellow , Center for Advanced Studi di Ilmu Perilaku, di Stanford , dan pada 1973-74 Profesor Linguistik di University of Illinois . Pada tahun 1974 ia sempat pindah kembali ke Inggris sebagai Guru Besar Bahasa dan Linguistik di Universitas Essex. Pada tahun 1976 ia pindah ke Australia sebagai Yayasan Profesor Linguistik di University of Sydney, di mana ia tetap sampai ia pensiun pada tahun 1987.
Halliday telah bekerja di berbagai daerah studi bahasa , baik teori maupun terapan , dan telah sangat prihatin dengan menerapkan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar bahasa teori dan praktik pendidikan. Ia menerima status Profesor Emeritus dari university of Sydney dan Macquarie university, Sydney, pada tahun 1987. Dia memiliki gelar doktor kehormatan dari University of Birmingham ( 1987), York University ( 1988) , Universitas Athena ( 1995), Macquarie University ( 1996), dan Lingnan University ( 1999).[3]
Linguistik Fungsional Struktural Haliday
Linguistik fungsional sistemik ( SFL ) adalah sebuah pendekatan untuk linguistik yang menganggap bahasa sebagai sistem semiotik sosial. Ini dikembangkan oleh Michael Halliday , yang mengambil gagasan dari sistem dari gurunya , JR Firth . Sedangkan Firth dianggap sistem untuk merujuk pada kemungkinan subordinasi struktur , Halliday dalam arti tertentu " dibebaskan " dimensi pilihan dari struktur dan membuat dimensi pengorganisasian sentral dari teori ini . Dengan kata lain, sedangkan banyak pendekatan untuk linguistik struktur deskripsi tempat dan sumbu sintagmatik di latar depan , Hallidean teori fungsional sistemik mengadopsi sumbu paradigmatis sebagai titik tolak . Istilah sistemik sesuai foregrounds Saussure " poros paradigmatik " dalam memahami cara kerja bahasa. Untuk Halliday , prinsip teoritis sentral kemudian bahwa setiap tindakan komunikasi melibatkan pilihan . Bahasa adalah suatu sistem , dan pilihan yang tersedia dalam berbagai bahasa dipetakan menggunakan alat representasi dari " sistem jaringan " .Michael Halliday , yang mendirikan linguistik fungsional sistemik.
Linguistik fungsional sistemik juga " fungsional " karena menganggap bahasa telah berevolusi di bawah tekanan dari fungsi tertentu yang sistem bahasa harus melayani . Oleh karena itu, fungsi yang diambil telah meninggalkan jejak mereka pada struktur dan organisasi bahasa di semua tingkatan , yang dikatakan dicapai melalui metafunctions . The metafunction istilah khusus untuk linguistik fungsional sistemik . Organisasi kerangka fungsional di sekitar sistem , yaitu , pilihan , perbedaan yang signifikan dari yang lain pendekatan " fungsional " , seperti , misalnya , tata bahasa fungsional Dik itu (FG , atau sekarang sering disebut , wacana tata bahasa fungsional) dan tata bahasa fungsional leksikal . Dengan demikian , penting untuk menggunakan sebutan - sistemik penuh fungsional linguistik - bukan hanya tata bahasa fungsional atau linguistik fungsional .
Bagi Halliday, semua bahasa melibatkan tiga fungsi umum , atau metafunctions : satu construes pengalaman (makna tentang dunia luar dan dalam), salah mengesahkan hubungan sosial (makna berkaitan dengan hubungan interpersonal), dan salah satu merajut bersama dari kedua fungsi untuk membuat teks (kata-kata) . . Karena fungsi-fungsi ini dianggap terwujud secara bersamaan - yaitu, seseorang tidak dapat berarti tentang dunia tanpa harus baik penonton - bahasa nyata atau virtual juga harus mampu membawa makna ini bersama-sama : ini adalah peran dari organisasi struktural, bahwa gramatikal, semantik atau kontekstual . Ketiga fungsi umum yang disebut " metafunctions (makna ganda) ".[4]
Pengaruh terbesar dari Struktural Fungsional Halliday berasal dari pemikiran J.R. Firth dan pengaruh mazhab Prague. Firth sendiri mendapatkan pengaruh besar dari Malinowski. Penekanan teori Halliday ini ada pada sisi makna simbol dalam konsep Saussure dan konsep ide yang menyatakan bahwa bahasa itu terbentuk dari bagaimana bahasa itu digunakan. Hal lain yang bisa dilihat bahwa Halliday menganggap bahasa sebagai fondasi bagi pengalaman manusia.  Makna menjadi tekanan pada prinsip ini selain dari fungsi atau dapat dikatakan bahwa fungsi dan makna sebagai basis bahasa manusia dan aktifitas komunikasi.
 Dengan basis struktural yang bertumpu kepada sintaksis, maka pengertian bahasa selajutnya adalah sebagai sebuah rangkaian konstruksi yang terdiri dari morfem hingga struktur wacana. Pendapat lain juga mengatakan bahwa teori ini melihat bahasa sebagai sebuah bentuk semiotik sosial dimana seseorang menggunakan bahasa untuk mencapai tujuan dengan mengekspresikan makna sesuai konteks.
Pendekatan yang dipakai oleh Halliday adalah konsep konteks situasi yang tercipta dari hubungan sistematis antara lingkungan sosial dan fungsi organisasional bahasa.
Setiap ujaran berarti sebuah tindakan (speech act), tindakan tersebut terjadi sebagai sebuah bentuk interaksi dalam sebuah kontek social. Kontek social ini dapat berupa struktur struktur lain berupa realitas dan fakta social. Jika kita hubungkan dengan pendapat Barthes tentang institusi social, peran dan status social, maka setiap ujaran tersebut akan diucapkan oleh seseorang yang memiliki status social dan melakukan sebuah peran dalam perwujudan sistem ide. Siapa yang bicara, dimana, untuk keperluan apa, dalam konteks situasi disebut sebagai register. Sementara makna tuturan juga ada dalam lingkup konteks budaya dan hal yang begitu disebut dengan genre.
Bahasa sebagai unsur kebudayaan membentuk sebuah sistem dalam kajian antropologi. Sementara fungsional menurut pandangan antropologi adalah: sebuah kebudayaan akan tetap ada dan dipakai (fungsional) apabila kebudayaan tersebut memenuhi kebutuhan individu atau kolektif. Contohnya, budaya gotong royong masih dipertahankan apabila mampu memenuhi kebutuhan individu dan kolektif, tapi apabila tidak maka bentuk gotong royong akan hilang. Kelemahannya dalam kajian antropologi adalah perubuhan kebudayaan itu sendiri bukanlah menjadi persoalan, atau hal yang bias dijelaskan.
Hal  lain yang bias kita lihat adalah adanya sistem yang membuatnya fungsional. Istilah sistem dalam Linguistik Fungsional Sistemik ini dapat diacukan dari pendekatan antropologi ini, dan juga dalam pendekata sosiologi. Sebuah institusi sosial seperti kampus, akan ada pembagian peran yang melekat dengan status secara structural mulai dari rector sampai kepada staf. Apabila satu sub sistem tidak berfungsi dengan baik, maka akan mengganggu kerja sistem yang lain. Penekanan yang diadopsi oleh Halliday tentang sistem dalam Linguistik Fungsional merupakan gabungan antara Sistem symbol dan sistem sosiologi (kontek situasi).
Kelahiran SFL ini merupakan proses dari perkembangan faham struktural Ferdinand de Saussure yang basisnya merupakan linguistik mikro dan kemudian merambah kepada bidang ilmu antropologi, sosiologi, psikologi dan lain-lain. Walau terjadi pertentangan dan perbedaan beberapa orang pemikir, akan tetapi SFL mencoba menggabungkan semuanya dalam kerangka strukturalis. Konsep konsep yang berusaha disatukan Halliday dalam SFL adalah kesadaran sosial, semiotik, morfosintaksis, sistem sosial, register dan konteks budaya.
Hal ini tentunya juga terlihat dari apa yang digiati oleh Halliday sendiri, yang fokus pada perkembangan dan pemilikan bahasa. Teori dan pendekatan Halliday ini sangat berpengaruh saat ini dalam kajian Applied linguistik terutama pengajaran bahasa. Hal inilah sebenarnya yang mendasari Communicative Language Teaching sebagai metode dan beserta teknik-teknik yang dapat dikembangkan dari pendekatan Linguistik Fungsional Sistemik.
Halliday adalah berperan penting dalam teorinya tata bahasa dan deskripsi, dijelaskan dalam bukunya An Introduction to Fungsional Grammar , pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 . Sebuah edisi revisi diterbitkan pada tahun 1994 , dan kemudian yang ketiga, di mana ia bekerja sama dengan Christian Matthiessen , pada tahun 2004 . Tapi konsepsi Halliday tata bahasa - atau ' lexicogrammar ' ( istilah yang dia diciptakan untuk menyatakan bahwa lexis dan tata bahasa merupakan bagian dari fenomena yang sama) - didasarkan pada teori yang lebih umum bahasa sebagai sumber semiotik sosial , atau 'yang berarti potensi 'Halliday berikut Hjelmslev dan Firth dalam membedakan teori dari kategori deskriptif dalam linguistik. Dia berpendapat bahwa ' kategori teoritis , dan antar hubungan mereka , menafsirkan model abstrak dari bahasa ... mereka saling mengerti dan menentukan . arsitektur teoritis berasal dari bekerja pada wacana deskripsi alam , dan dengan demikian ' tidak ada garis yang sangat jelas ditarik antara ' ( teoritis ) linguistik ' dan ' linguistik terapan ' dengan demikian , teori ' terus berkembang seperti yang dibawa untuk menanggung pada pemecahan masalah dari penelitian atau bersifat praktis '. Halliday kontras kategori teoritis dengan kategori deskriptif , yang didefinisikan sebagai ' kategori diatur dalam deskripsi bahasa tertentu '. Pekerjaan deskriptif -Nya telah difokuskan pada bahasa Inggris dan Cina.
Halliday menolak tegas klaim tentang bahasa yang terkait dengan tradisi generatif . Bahasa , menurutnya, " tidak bisa disamakan dengan ' himpunan semua kalimat gramatikal ' , apakah set yang dipahami sebagai terbatas atau tak terbatas ". Ia menolak penggunaan logika formal dalam teori linguistik sebagai " tidak relevan dengan pemahaman bahasa " dan penggunaan pendekatan seperti " bencana bagi linguistik " .pada Chomsky khusus , ia menulis bahwa " masalah imajiner diciptakan oleh seluruh rangkaian dikotomi yang diperkenalkan Chomsky , atau mengambil alih: tidak hanya sintaks/ semantik tetapi juga tata bahasa / lexis , bahasa / pikiran , kompetensi / kinerja . Begitu dikotomi ini telah dibentuk , masalah muncul menemukan dan mempertahankan batas-batas di antara mereka.[5]
Setiap kajian bahasa berdasarkan pada suatu pendekatan, tidak ada kajian bahasa yang beba terhadap anggapan dasar. Pada konsep LFS dikemukakan bahwa bahasa merupakan sistem arti dan sistem bentuk dan ekspresi untuk merealisasikan arti tersebut. Berdasarkan persfektif LFS, bahasa berfungsi untuk membuat makna atau arti dan bahasa mempunyai tiga fungsi yaitu:
1.       Fungsi memaparkan pengalaman (fungsi Ideasonal)
2.       Fungsi mempertukar pengalaman (fungsi antar persona)
3.       Fungsi merangkai pengalaman (fungsi tekstual).

Aliran Fungsional sistemik ini sangat bagus untuk digunakan sebagai landasan dalam menanalisis bahasa berdasarkan konteknya, baik dari segi gramatikal, clausa, fonologi serta ilmu linguistic lainnya.






DAFTAR KEPUSTAKAAN DAN SUMBER BACAAN
Abdul Chaer, 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Geoffrey Sampson, 1980, Schools of Linguistics : Hutchinson London Melbourne Sydney Auckland Johannesburg. P. 103
Halliday, M.A. K. Hasan R. 1985. Language Context, and text:Aspect of language in a social semiotic Perspective. London : Oxford University Press.
Halliday, M.A. K., 2004. An Introduction to Functional Grammar. New York: Oxford University Press.
http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Halliday, diunggah pada tanggal 25 Desember 2013, 10:40
http://en.wikipedia.org/wiki/Systemic_functional_linguistics. diunggah pada tanggal 25 desember 2013, 10:50.
Peter Matthews, 2003. A Short History of Structural Linguistics. Australia: Cambridge University Press.



[1] Peter Matthews, 2003. A Short History of Structural Linguistics. Australia: Cambridge University Press. P. 16
[2]  Geoffrey Sampson, 1980, Schools of Linguistics : Hutchinson London Melbourne Sydney Auckland Johannesburg. P. 103
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Halliday, diunggah pada tanggal 25 Desember 2013, 10:40
[4] http://en.wikipedia.org/wiki/Systemic_functional_linguistics. diunggah pada tanggal 25 desember 2013, 10:50.
[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Halliday, diunggah pada tanggal 25 Desember 2013, 10:40

PSIKOLINGUISTIK   PENGERTIAN Secara etimologis, istilah psikolingustik berasal dari dua kata yaitu, Psikologi dan Linguistik. Kedua kata...