ALIRAN FUNGSIONALISM
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Aliran-aliran yang berkembang pada ranah linguistik sangatlah dipengaruhi
oleh bidang ilmu lain dan paham-paham yang ada disekitarnya, terutama
yang serumpun dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Fungsionalisme dalam kajian
linguistik merupakan pengaruh dari beberapa paham dalam ilmu seperti
antropologi, sosiologi dan psikologi. Paham yang ada disekitar kemunculan
fungsionalisme sebagai akarnya adalah strukturalis meskipun ada yang
berpendapat berbeda tentang hal ini.
Dalam ilmu antropologi, fase perkembangannya lebih dahulu kemunculan
fungsionalisme dari pada strukturalisme itu sendiri. Akan tetapi untuk bidang
linguistik, strukturalisme merupakan akar dari kemunculan
fungsionalisme atau struktural fungsional, yang kemudian Halliday menyebutnya
dengan Linguistik Struktural Fungsional (SFL) atau Linguistik
Fungsional Sistemik. Makalah ini akan menjelaskan tentang kemunculan
fungsionalisme dalam kajian linguistik dan pemikiran Halliday tentang
Linguistik Struktural Fungsional tersebut.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan Masalah atau masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.
Bagaimana munculnya aliran fungsionalism.
2.
Pemikiran Haliday terhadap LSF
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan dari
makalah ini adalah;
1.
Sebagai tugas makalah kelompok pada mata kuliah Aliran-aliran linguistic
2.
Untuk mengetahui kemunculan aliran fungsionalism dalah ranah ilmu
linguistic
3.
Mengetahui pemikiran Halliday dalam LSF
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Aliran Fungsionalisme
Fungsionalisme adalah gerakan dalam
linguistik yang berusaha menjelaskan fenomena bahasa dengan segala
manifestasinya dan beranggapan bahwa mekanisme bahasa dijelaskan dengan
konseuensi-konsekuensi yang ada kemudian dari mekanisme itu sendiri. Wujud
bahasa sebagai sistem komunikasi manusia tidak dapat dipisahkan dari tujuan
berbahasa, sadar atau tidak sadar.
Konsep utama dalam fungsionalisme
ialah fungsi bahasa dan fungsi dalam bahasa. Menyangkut yang pertama sikap
fungsionalistis sebagai berikut.
1. Analisis bahasa
mulai dari fungsi ke bentuk.
2. Sudut
pandang pembicara menjadi perspektif analisis.
3. Deskripsi
yang sistematis dan menyeluruh tentang hubungan antara fungsi dan bentuk.
4. Pemahaman
atas kemampuan komunikatif sebagai tujuan analisis bahasa.
5. Perhatian
yang cukup pada bidang interdisipliner, misalnya sosiolinguistik dan penerapan
linguistik pada masalah praktis, misalnya pembinaan bahasa.
Berikut ini akan dijelaskan tentang kemunculan fungsionalisme dalam bidang
ilmu sosial yang mana mempengaruhi kemunculan fungsionalisme atau struktural
fungsional dalam ranah ilmu linguistik. Berbicara tentang faham dan pemikiran
tentunya tidak bisa dilepaskan dari tokoh dan fenomena yang ada
disekitarnya.
Acuan dalam menjelaskan kemunculan fungsionalisme itu akan dimulai dari
Saussure sebagai pelopor Linguistik moderen disamping klaim bahwa
fungsionalisme ini berakar dari struktruralisme. Saussure lahir pada tahun
1857, merupakan anak dari seorang naturalis yang dilingkupi oleh keluarga yang
kuat dalam bidang ilmu alam. Ia mengenal linguistik dari seorang filolog yang
bernama Adolf Pictet. Pemikir yang kuat pada zamannya antara lain adalah
Sigmund Freud (bidang psikologi) dan Durkheim (bidang fisika sosial).
Penjelasan-penjelasan Saussure tentang strukturalism kemudian diadopsi oleh
bidang lain seperti antropologi dan semiotik.
Strukturalisme dalam bidang antropologi banyak dipengaruhi oleh pemikiran
Brownislaw Kasper Malinowski (1884-1942). Prinsip-prinsip yang dikembangkan
olehnya juga merupakan pengaruh dari ilmu linguistik modern de Saussure.
Malinowski ini merupakan pelopor ethnografi dan pelopor kemunculan struktural
fungsional dan kemudian juga mempengaruhi ahli-ahli sosiologi dan
linguistik. J.R. Firth seorang ahli linguistik Inggris juga mendapat
pengaruh besar dari Malinowski. Strukturalisme dalam bidang antropologi semakin
mencuat berkat pengaruh Claude-Levi’strauss, bahkan memberi pengaruh besar
terhadap sosiologi, sastra dan bahasa serta filsafat.
Pengaruh strukturalis dalam bidang Sosiologi dilakukan oleh Emile Durkheim
(1858-1917). Terma yang terkenal dari Durkheim ini adalah “kesadaran kolektif.
Pemikiran-pemikirannya tentang strata
sosial dan institusi sosial juga sebagai pemicu lahirnya fungsionalisme dalam
ilmu sosiologi. Teori itu kemudian dikemukakan oleh Kingsley dan Wilbert Moore
pada tahun 1945. Talcott Parsons juga merupakan seorang
ahli sosiologi yang juga mengembangkan teori fungsional struktural (Adaptation,
Goal attainment, Integration, Latency). Roland Barthes juga memberi pengaruh
struktural kuat terhadap sosiologi terutama tentang teori-teori sosial dan
marxisme.
Ada beberapa penganut struktural yang berasal dari Amerika seperti Fanz
Boas (1858-1942), Edward Sapir (1884-1939), Benjamin Lee Whorf (1897-1941) dan
Leonard Bloomfield. Kontribusi Boas adalah pada pengumpulan informasi tentang
bahasa-bahasa dan budaya orang asli Amerika. Metode-metode inilah yang kemudian
menjadi basis strukturalisme di Amerika. Sapir merupakan murid dari Boas.
Mereka mencoba menggabungkan psikologi dan antropologi dalam melihat bahasa
yang mana sangat berhubungan dengan cara hidup dan pemikiran dari penutur.
Pemikiran inilah yang kemudian dikembangkan oleh Whorf sehingga melahirkan
Hipotesis Sapir-Whorf yang mana mengatakan bahwa struktur
bahasa seseorang ketika berbicara menentukan atau menjelaskan bagaimana dia
melihat dan mempersepsikan dunia. Sementara itu kontribusi
Bloomfield adalah mengokohkan berdirinya linguistik sebagai sains. Dia juga
menolak kesimpulan yang bersifat mentalistik dari Boas dan Sapir yang banyak
dipengaruhi oleh psikologi behavioris. Namun pada akhirnya Bloomfield juga
mendapat tantangan dari Noam Chomsky terutama dalam kajian Sintaksis dengan
karyanya yang berjudul Struktur Sintaksis (formalis). Pendekatan mentalistik
yang diapliksikan Chomsky dan Chomskian melahirkan teori generatif semantik,
gramar leksikal fungsional, dll.
Kemunculan aliran fungsionalisme dalam bidang linguistik merupakan
kontribusi dari berbagai bidang ilmu diantranya adalah antropologi,
sosiologi, dan psikologi yang menganut strukturalisme. Hal ini dapat
dilihat dari pengaruh besar Saussure hingga Chomskian. Fungsionalisme dalam
kajian ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Struktural Fungsional. Hal yang menonjol dalam kemunculan struktural
fungsional dalam ranah linguistik yang dikembangkan oleh Halliday diasumsikan
sebagai pengaruh dari tiga bidang ilmu yaitu antropologi, sosiologi dan
psikologi. Dalam bidang antropologi yang menonjol adalah tentang sistem tanda
(semiotik). Untuk bidak sosiologi adalah pengaruh Barthes tentang peran dan
status sosial. Dan selanjutnya dalam bidang psikologi adalah pengaruh
behaviorist dan teori kesadaran.
B.
Linguistik Fungsional Struktural
Haliday
Pengaruh terbesar dari Struktural Fungsional Halliday berasal dari
pemikiran J.R. Firth dan pengaruh mazhab Prague. Firth sendiri mendapatkan
pengaruh besar dari Malinowski. Penekanan teori Halliday ini ada pada sisi
makna simbol dalam konsep Saussure dan konsep ide yang menyatakan bahwa bahasa
itu terbentuk dari bagaimana bahasa itu digunakan. Hal lain yang bisa dilihat
bahwa Halliday menganggap bahasa sebagai fondasi bagi pengalaman
manusia. Makna menjadi tekanan pada prinsip ini selain dari fungsi
atau dapat dikatakan bahwa fungsi dan makna sebagai basis bahasa manusia dan
aktifitas komunikasi.
Dengan basis struktural yang
bertumpu kepada sintaksis, maka pengertian bahasa selajutnya adalah sebagai
sebuah rangkaian konstruksi yang terdiri dari morfem hingga struktur wacana.
Pendapat lain juga mengatakan bahwa teori ini melihat bahasa sebagai sebuah
bentuk semiotik sosial dimana seseorang menggunakan bahasa untuk mencapai
tujuan dengan mengekspresikan makna sesuai konteks.
Pendekatan yang dipakai oleh Halliday adalah konsep konteks situasi yang
tercipta dari hubungan sistematis antara lingkungan sosial dan fungsi
organisasional bahasa.
Setiap ujaran berarti sebuah tindakan (speech act),
tindakan tersebut terjadi sebagai sebuah bentuk interaksi dalam sebuah kontek
social. Kontek social ini dapat berupa struktur struktur lain berupa realitas
dan fakta social. Jika kita hubungkan dengan pendapat Barthes tentang
institusi social, peran dan status social, maka setiap ujaran tersebut akan
diucapkan oleh seseorang yang memiliki status social dan melakukan sebuah peran
dalam perwujudan sistem ide. Siapa yang bicara, dimana,
untuk keperluan apa, dalam konteks situasi disebut sebagai register. Sementara
makna tuturan juga ada dalam lingkup konteks budaya dan hal yang begitu disebut
dengan genre.
Bahasa sebagai unsur kebudayaan membentuk sebuah sistem dalam kajian
antropologi. Sementara fungsional menurut pandangan antropologi
adalah: sebuah kebudayaan akan tetap ada dan dipakai (fungsional) apabila
kebudayaan tersebut memenuhi kebutuhan individu atau kolektif.
Contohnya, budaya gotong royong masih dipertahankan apabila mampu memenuhi
kebutuhan individu dan kolektif, tapi apabila tidak maka bentuk gotong royong
akan hilang. Kelemahannya dalam kajian antropologi adalah perubuhan kebudayaan
itu sendiri bukanlah menjadi persoalan, atau hal yang bias dijelaskan.
Hal lain yang bias kita lihat adalah adanya sistem
yang membuatnya fungsional. Istilah sistem dalam Linguistik Fungsional Sistemik
ini dapat diacukan dari pendekatan antropologi ini, dan juga dalam pendekata
sosiologi. Sebuah institusi sosial seperti kampus, akan ada
pembagian peran yang melekat dengan status secara structural mulai dari rector
sampai kepada staf. Apabila satu sub sistem tidak
berfungsi dengan baik, maka akan mengganggu kerja sistem yang lain. Penekanan
yang diadopsi oleh Halliday tentang sistem dalam Linguistik Fungsional
merupakan gabungan antara Sistem symbol dan sistem sosiologi (kontek situasi).
Kelahiran SFL ini merupakan proses dari perkembangan faham struktural
Ferdinand de Saussure yang basisnya merupakan linguistik
mikro dan kemudian merambah kepada bidang ilmu antropologi, sosiologi,
psikologi dan lain-lain. Walau terjadi pertentangan dan perbedaan beberapa
orang pemikir, akan tetapi SFL mencoba menggabungkan semuanya dalam kerangka
strukturalis. Konsep konsep yang berusaha disatukan
Halliday dalam SFL adalah kesadaran sosial, semiotik, morfosintaksis, sistem
sosial, register dan konteks budaya.
Hal ini tentunya juga terlihat dari apa yang digiati oleh Halliday sendiri,
yang fokus pada perkembangan dan pemilikan bahasa. Teori dan pendekatan
Halliday ini sangat berpengaruh saat ini dalam kajian Applied linguistik
terutama pengajaran bahasa. Hal inilah sebenarnya yang mendasari Communicative
Language Teaching sebagai metode dan beserta teknik-teknik yang dapat
dikembangkan dari pendekatan Linguistik Fungsional Sistemik.
Setiap kajian bahasa berdasarkan pada suatu pendekatan, tidak ada kajian
bahasa yang beba terhadap anggapan dasar. Pada konsep LFS dikemukakan bahwa
bahasa merupakan sistem arti dan sistem bentuk dan ekspresi untuk
merealisasikan arti tersebut. Berdasarkan persfektif LFS, bahasa
berfungsi untuk membuat makna atau arti dan bahasa mempunyai tiga fungsi yaitu:
1.
Fungsi memaparkan
pengalaman (fungsi Ideasonal)
2.
Fungsi mempertukar
pengalaman (fungsi antar persona)
3.
Fungsi merangkai
pengalaman (fungsi tekstual).
BAB III
SIMPULAN
Fungsionalisme adalah gerakan dalam
linguistik yang berusaha menjelaskan fenomena bahasa dengan segala
manifestasinya dan beranggapan bahwa mekanisme bahasa dijelaskan dengan
konseuensi-konsekuensi yang ada kemudian dari mekanisme itu sendiri. Wujud
bahasa sebagai sistem komunikasi manusia tidak dapat dipisahkan dari tujuan
berbahasa, sadar atau tidak sadar.
Pengaruh terbesar dari Struktural Fungsional Halliday berasal dari
pemikiran J.R. Firth dan pengaruh mazhab Prague. Firth sendiri mendapatkan
pengaruh besar dari Malinowski. Penekanan teori Halliday ini ada pada sisi
makna simbol dalam konsep Saussure dan konsep ide yang menyatakan bahwa bahasa
itu terbentuk dari bagaimana bahasa itu digunakan. Hal lain yang bisa dilihat
bahwa Halliday menganggap bahasa sebagai fondasi bagi pengalaman
manusia. Makna menjadi tekanan pada prinsip ini selain dari fungsi
atau dapat dikatakan bahwa fungsi dan makna sebagai basis bahasa manusia dan
aktifitas komunikasi.
Setiap kajian bahasa berdasarkan pada suatu pendekatan, tidak ada kajian
bahasa yang bebas terhadap
anggapan dasar. Pada konsep LFS dikemukakan bahwa bahasa merupakan sistem arti
dan sistem bentuk dan ekspresi untuk merealisasikan arti tersebut. Berdasarkan
persfektif LFS, bahasa berfungsi untuk membuat makna atau arti dan bahasa
mempunyai tiga fungsi yaitu:
1. Fungsi
memaparkan pengalaman (fungsi Ideasonal)
2. Fungsi
mempertukar pengalaman (fungsi antar persona)
3. Fungsi
merangkai pengalaman (fungsi tekstual).
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdul Chaer, 2007. Linguistik
Umum. Jakarta : Rineka Cipta
M.A.K. Halliday. Hasan R. 1985. Language
Context, and text:Aspect of language in a social semiotic Perspective.
London : Oxford University Press.
ANALISIS WACANA
UJIAN TENGAH SEMESTER
ANALISIS WACANA
Oleh: Rengki Afria
1.
Jelaskan
pemahaman saudara tentang Wacana, Analisis Wacana, Analisis Wacana Kritik dan
Diskursus.
a.
Wacana;
Istilah wacana menurut Douglas
berasal dari bahasa Sansekerta wac/wak/vak, yang artinya berkata,
berucap. Kata tersebut kemudian mengalami perubahan bentuk menjadi wacana.[1]
Dalam lapangan sosiologi, wacana
menunjuk pada hubungan antara konteks sosial dari pemakai bahasa. Dalam
pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar dari kalimat.[2]
Wacana berkaitan dengan pemahaman
tentang tindakan manusia yang dilakukan dengan bahasa (verbal) dan bukan bahasa
(nonverbal). Hal ini menunjukkan, bahwa untuk memahami wacana dengan baik dan
tepat, diperlukan bekal pengetahuan kebahasaan, dan bukan kebahasaan (umum).[3]
Kata
wacana berasal dari kata vacana ‘bacaan’ dalam bahasa Sansekerta. Kata vacana
itu kemudian masuk ke dalam bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Baru wacana
atau vacana atau’ bicara, kata, ucapan. Kata wacana dalam bahasa baru
itu kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi wacana ‘ucapan,
percakapan, kuliah’.[4]
Sebagai satuan bahasa yang terlengkap, wacana
mempunyai konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang dapat dipahami oleh pembaca
dan pendengar. Sebagai satuan gramatikal yang tertinggi, wacana dibentuk dari
kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyaratan kewacanaan
lainnnya. Persyaratan gramatikal dalam wacana ialah adanya wacana harus kohesif
dan koherens. Kohesif artinya terdapat keserasian hubungan unsur-unsur dalam
wacana. Sedangkan koheren artinya wacana tersebut terpadu sehingga mengandung
pengertian yang apik dan benar.
Dengan demikian wacana adalah apapun yang dikatakan
oleh manusia baik dalam bentuk lisan ataupun tulisan, kalimat atau paragraf yang
mempunyai makna. Wacana itu sendiri diartikan sebagai unit bahasa yang lebih besar
dari kalimat. Unit bahasa tersebut bisa dengan beberapa kalimat atau dengan
satu kalimat saja karena memaknai sebuah wacana tidak terlepas dari konteks dan
faktor-faktor di luar kebahasaan yang mempengaruhi makna.
Contoh; seorang Ibu yang menegur anaknya yang selalu
pulang terlambat disore hari;
a)
Aeh nak! Mok ngato manusio, ayaam
lah belek ugo ka kandang nyuh![5]
“wahai
nak! Jangankan manusia, ayam pun sudah pulang kekandangnya juga”
Konteks:
Dituturkan oleh Ibu yang tidak ingin anaknya mengulangi perbuatannya.
Wacana ini
dituturkan untuk menesehati anak yang biasa pulang terlambat kerumah
dikarenakan banyak bermain diluar, yang mana disini si Ibu mempercontohkan
kepada binatang (Ayam). Binatang saja yang tidak mempunyai akal dan fikiran
jika sudah gelap/sore pulang kekandangnya, apa lagi manusia yang dianugerahi
segalanya oleh tuhan sehingga sang anak bisa berfikir dan tidak akan
mengulanginya dikemudian hari.
b.
Analisis
Wacana;
Analisis wacana adalah
istilah umum yang dipakai dalam banyak disiplin ilmu dengan berbagai
pengertian. meskipun ada gradasi yang besar dari berbagai definisi, titik
singgungnya adalah analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa
atau pemakai bahasa.
Analisis
wacana berarti menganalisis unit bahasa yang lebih tinggi dari kalimat--wacana.
Unit itu dapat berupa paragaraf, yang terdiri atas beberapa kalimat, atau hanya
satu kalimat saja.
Analisis wacana adalah studi tentang struktur pesan dalam suatu
komunikasi atau telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa. Melalui
analisis wacana, kita tidak hanya mengetahui isi teks yang terdapat pada suatu
wacana, tetapi juga mengetahui pesan yang ingin disampaikan, mengapa harus
disampaikan, dan bagaimana pesan-pesan itu tersusun, dan dipahami. Analisis
Wacana akan memungkinkan untuk memperlihatkan motivasi yang tersembunyi di
belakang sebuah teks atau di belakang pilihan metode penelitian tertentu untuk
menafsirkan teks.
c.
Analisis
Wacana Kritik
Analisis wacana kritis
dalam melihat wacana yaitu pemakaian bahasa dalam tuturan dan tulisan sebagai
bentuk dari praktik sosial.
Analisis
wacana kritis (AWK) adalah sebuah upaya atau proses (penguraian) untuk memberi
penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh
seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu
untuk memperoleh apa yang diinginkan. Karaktektistik AWK diantaranya adalah
Tindakan, Konteks, Historis,Kekuatan, dan Ideologi.
Analisis wacana kritis (Critical Discourse analysis) menggunakan
pendekatan kritis dalam menganalisis bahasa tidak saja dari aspek kebahasaan,
tetapi juga menghubungkannya dengan konteks. Konteks yang dimaksud adalah untuk
tujuan dan praktik tertentu. Pengertian analisis wacana yang bersifat kritis
yaitu suatu pengkajian secara mendalam yang berusaha mengungkap kegiatan,
pandangan, dan identitas berdasarkan bahasa yang digunakan dalam wacana
tersebut.
Contoh teks;


teks


TEKS:
Jarak antara kamu dan aku adalah Tuhan, Biar do’a
yang jadi penyambung kita.
KONTEKS:
seorang perempuan yang sedang berdoa memohon kepada
tuhannya.
Analisis; Gambar diatas banyak kita temui dalam media-media
sosial facebook, BBM, twitter dan lain-lain yang selalu diunggah atau dijadikan
DP di BB. menurut pengamatan penulis, kata-kata tersebut bisa menghasilkan
makna ganda atau embiguitas, yang mana ada seorang perempuan yang berdoa ingin
didekatkan dengan jodohnya, disisi lain juga ada perempuan yang mencintai
seorang laki-laki dengan doa menjadi penyampaiannya. Teks ini juga biasa
ditemukan pada pemiliknya yang sedang merasakan bahagia atau sedang tidak enak
hati kepada pasangannya. Dari kalimat ” Jarak antara kamu dan aku adalah
Tuhan” (maksudnya adalah penghalang antara seorang laki-laki dan perempuan
adalah tuhan, disini adalah jodoh. Jodoh tersebut tidak satupun manusia yang
tahu selain dari tuhan). “Biar do’a yang jadi penyambung kita” (artinya;
karena manusia tidak mampu dalam melakukan hal tersebut, hanya melalui do’a yang
disampaikan kepada tuhan yang menjadikan perantara kepada pasangannya).
d.
Diskursus
Diskursus itu tidak ada
bedanya dengan wacana, bisa dikatakan wacana adalah diskursus begitu pula
sebaliknya. Diskursu atau wacana menjadi istilah umum dalam berbagai bidang
disiplin ilmu seperti, teori kritis, sosiologi, linguistik, filsafat, psikologi
sosial. Namu didalam disiplin ilmu tersebut, tiap-tiap ahli mendefinisikan
wacana tersebut dengan sendirinya sehingga membuat diskursus atau wacana
menjadi lebih luas lagi.
2.
Apa
yang saudara pahami tentang Teks, Pre-Teks, Konteks, Ko-Teks, Interteks?
Jelaskan!
a.
Teks;
Menurut pemahaman saya adalah apa-apa yang
dibahasakan baik dalam bentuk percakapan ataupun tulisan untuk menyatakan apa
saja yang kita pikirkan dengan tujuan menyampaikan ide, pesan atau informasi
kepada para pembaca ataupun pendengar. Memang benar bahwasanya teks itu terdiri
dari kata-kata dan kalimat, namun didalam teks tersebut mengandung makna-makna
yang akan disampaikan melalui berbicara dan tulisan.
Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya
kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi juga semua jenis expresi
komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra dan sebagainya.
b.
Pre-Teks;
Pre-teks adalah suatu teks tanpa sebuah konteks.
c. Konteks;
Konteks adalah teks yang berkaitan antara teks yang
satu dengan sebuah teks yang lain. Koteks merupakan unsur teks yang ada dalam
sebuah teks. Wujud koteks bermacam-macam, dapat berupa kalimat, paragraf, dan
bahkan wacana. Koteks adalah semua unsur kebahasaan atau linguistik yang
berperanan dalam menentukan makna sebuah wacana. Peranan koteks dalan sebuah
wacana adalah mendukung atau memperjelas makna. Konteks adalah sesuatu yang menjadi sarana untuk memperjelas
suatu maksud.
Kontek merupakan masukan semua situasi dan hal yang
berada diluar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam
bahasa, situasi dimana teks tersebutdiproduksi, fungsi yang dimaksudkan dan
sebagainya.
d.
Ko-Teks;
Koteks
adalah teks yang bersifat sejajar, koordinatif, dan memiliki hubungan dengan
teks lainnya, teks satu memiliki hubungan dengan teks lainnya. Teks lain
tersebut bisa berada di depan (mendahului) atau di belakang (mengiringi).
Peranan koteks dalan sebuah
wacana adalah mendukung atau memperjelas makna. Konteks yang berupa bagian ekspresi yang dapat memperjelas
maksud disebut ko-teks (co-text).
e.
Interteks;
Teks-teks yang
saling berkaitan dan berhubungan baik secara sinkronis atau diakronis dengan
tek-teks yang lain. Interteks
adalah wacana yang bergantung kepada wacana yang lain. Wacana-wacana lain turut memainkan peranan penting
untuk membantuseseorang
memahami dengan mudah. Kefahaman
seseorang terhadap sesebuah wacana bergantung kepada pengetahuannya
terhadap perkara yang sedang dibaca atau didengarnya itu.
3. Cari teks sederhana dan analisis dengan menggunakan
salah satu pendekatan dari sekian banyak pendekatan dalam analisis wacana?
penulis akan
menganalisis teks berdasarkan pendekatan wacana sejarah.
Pendekatan Wacana Sejarah (Discourse
Historical Approaches)
Menurut pendekatan kesejarahan, analisis wacana harus
memperhatikan konteks kesejarahan. Wacana di sini disebut historis karena
menurut Wodak, analisis wacana harus menyertakan konteks sejarah bagaimana
wacana tentang suatu kelompok atau komunitas digambarkan.[6]
Dalam paradigma kritis, media dipandang sebagai domain di
mana kelompok dominan dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan bahkan
memarjinalisasi mereka dengan menguasai dan mengontrol media. Karena media
dikuasai oleh kelompok yang dominan, realitas yang sebenarnya telah terdistorsi
dan palsu.
"Yang
berbenah diri yang membantu penegakan hukum, malah dianggap partai yang salah
dan jelek, yang korupsi. Selama dua setengah tahun partai kita diserang dan
habisi oleh lawan politik dan sejumlah media massa, ada televisi yang sepanjang
massa terus menelanjangi partai Demokrat, menjadikan Partai Demokrat menjadi
olok-olok, cemoohan dan bulan-bulanan,” kata SBY dalam pembukaan konsolidasi
Demokrat di Sentul.[7]
KONTEKS:
Dituturkan Oleh Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono
pada pembukaan konsolidasi Partai Demokrat di Sentul.
Analisis Menurut Penulis; wacana tersebut disampaikan oleh
SBY pada saat menyampaikan pidato pembukaan konsolidasi partai Demokrat
baru-baru ini. Menurut penulis SBY Mengeluhkan keadaan partainya yang selalu
menjadi buah bibir dari kalangan masyarakat yang sisampaikan melalui media.
Dari wacana “Yang
berbenah diri” (maksudnya adalah Kader-kader dari
partai Demokrat yang tersandung kasus Korupsi dalam masa pembenahan) “ yang
membantu penegakan hukum” (artinya adalah yang membantu para penegak hukum
disini bisa dikatakan KPK atau Polisi dan kejaksaan) dalam menyelidiki
kasus-kasus korupsi tersebut dengan membeberkan semua pihak yang terlibat antar
sesama kader partai.
“Malah dianggap partai yang salah dan
jelek, yang korupsi.” (maksudnya ada diantara kader partai yang menganggap
bahwa partai yang tidak baik dalam pembinaan dan adanya kesenjangan sosial maka
terjadilah korupsi dan menganggap partai menjadi dalih untuk melakukan hal
tersebut).
“Selama dua setengah tahun partai kita
diserang dan habisi oleh lawan politik dan sejumlah media massa, ada televisi
yang sepanjang massa terus menelanjangi partai Demokrat, menjadikan Partai
Demokrat menjadi olok-olok, cemoohan dan bulan-bulanan,” (Maksudnya disini
ialah sudah lebih dari dua setengah tahun partai demokrat di mamfaatkan keadaan
oleh lawan politiknya melalui kader-kader partai yang tersandung kasus korupsi
seperti Anggelina Sondakh yang tersandung kasus wisma atlet, Andi Malarangeng
dalam kasus hambalang, dan mantan Bendahara umum partai demokrat Nazarudin; yang
dipublikasikan besar-besaran dan dipojoki melalui media massa.
Dari kata “media massa” yang
disampaikan oleh SBY dapat penulis analisis bahwa kata tersebut mangacu kepada
tiga orang pemimpin partai-partai lain yang juga akan maju pada pemilihan
presiden april 2014 nanti. diantara mereka adalah Hary Tanoesoedibjo (Dirut
RCTI), Surya Paloh (Metro TV) dan Aburizal Bakri (TV One), berdasarkan pantauan
penulis ketiga stasiun TV inilah yang selalu menyiarkan secara langsung apabila
ada kasus-kasus penangkapan oleh KPK bagi para koruptor dan penyiaran langsung
pada sidang TIPIKOR.
BAHAN BACAAN
Mulyana. 2005. Kajian Wacana :
Teori, Metode dan Aplikasi Prinsip-Prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta:
Tiara Wacana.
Eriyanto,
2001. Analisis Wacana; Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta: PT.
LKIS,
Poerwadarminta, W.J.S. 1976. Kamus
Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
http://www.portalkbr.com/berita/nasional/2994936_4202.html,
di ambil pada hari Rabu tanggal 30
Oktober 2013, 14;23 Wib.
[1] Mulyana. Kajian
Wacana : Teori, Metode dan Aplikasi Prinsip-Prinsip Analisis Wacana. (Yogyakarta:
Tiara Wacana, 2005). H. 3
[2]Eriyanto, Analisis Wacana;
Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: PT. LKIS, 2001), h. 3
[3] Ibid, h. 1
[5] Bahasa Kerinci
[6]
Eriyanto., Loc, cit. h. 17
[7]
http://www.portalkbr.com/berita/nasional/2994936_4202.html,
di ambil pada hari Rabu tanggal 30
Oktober 2013, 14;23 Wib.
Langganan:
Postingan (Atom)
PSIKOLINGUISTIK PENGERTIAN Secara etimologis, istilah psikolingustik berasal dari dua kata yaitu, Psikologi dan Linguistik. Kedua kata...

-
Sumber: Google Berikut disajikan daftar 53 jurnal bidang linguistik (bahasa Arab, Inggris, Indonesia), sastra, dan pengajarannya yang terakr...
-
MAKALAH FENOMENOLOGI “Di Buat Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Pada Mata Kul i ah Filsafat Ilmu ” DOSEN: Dr. Mhd. Nur, M.S...
-
UJIAN TENGAH SEMESTER ANALISIS WACANA Oleh: Rengki Afria 1. Jelaskan pemahaman saudara tentang Wacana, Analisis Wacana, Ana...